Langsung ke konten utama

#Catatan Harian 1: Mengoreksi diri

Apa sih yang mereka bicarakan? Apa yang mereka dapatkan dari mengorek kesalahan? Kenapa sih harus usil? Pertanyaan itu seharusnya ditujukan pada kita. Begitu mudahnya kita membicarakan aib dan borok orang lain, seakan aib itu najis yang mengotori lingkungan dimana kita tinggal. Disaat ada yang merespon dan suka, seakan datang sekutu yang membenarkan kelakuan kita. Semakin lama kita berbicara akan kesalahan dan aib orang lain, semakin banyak yang tertarik dan menyukai kita. Ini adalah topik hangat yang selalu meeramaikan suasana saat kumpul bersama.

Dilain sisi, orang yang dibicarakan benar-benar terpuruk. Ia merasa seluruh dunia mengkhianatnya dan menghakimi perbuatannya. Dia yang biasanya ramah akan berubah, dia yang biasanya penolong akan berubah, dia yang biasanya penurut pun akan berubah. Dia tidak akan peduli lagi, apakah perbuatannya baik atau buruk. Dia bahkan sekarang benar-benar akan melakukan apa pun untuk bertahan meskipun itu harus menyakiti kita. Sadarkah kita, jika kita sedang membangunkan iblis yang tertidur di dalam orang itu.

Setiap orang pasti melakukan kesalahan. Setiap yang salah adalah salah dan tidak bisa dibenarkan apa pun alasannya, namun bukan berarti kita bisa menghakimi dan mengucilkan pelaku kesalahan seakan-akan orang itu kudisan yang menular. Jika kita memang kita tahu dia bersalah, datangi dan tegurlah jika perlu marahi semarah-marahnya. Itu lebih baik ketimbang kita membicarakan kesalahannya pada orang lain. Apa yang kita bicarakan mungkin benar, namun apa yang orang bicarakan karena mendengar dari kita belumlah benar. Hanya satu kesalahan yang dia perbuat namun akhirnya orang-orang menghakimi dengan puluhan dakwaan yang bahkan tidak diperbuat.

Entah itu budaya atau memang sifat dasar yang tertanam di diri kita seak lahir. Yang jelas ini adalah penyakit yang sudah menjamur di masyarakat kita. Sudah saatnya kita mengoreksi diri, siapa yang tahu, kita menghujat orang lain namun justru kita lah yang lebih buruk dari orang yang kita hujat. Saat itu kita sadar telah membunuh hati malaikat dan menumbuhkan iblis. Penyesalan tak akan berguna disaat itu. 

Komentar